Tampilkan postingan dengan label INFO PUSAKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO PUSAKA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

PROTOTIPE KEPALA [HULU/ULU]
BADIK DAN KERIS LAMPUNG
Patung megalitik PALINDO di Lembah BADA Peninggalan masyarakat To Bato Sulawesi Tengah yang diperkirakan dari era 3000-1000 sebelum masehi.

Senin, 09 September 2013

MENGENAL BAGIAN-BAGIAN KERIS (1)
Rincikan Keris
Rincikan keris adalah perincian dari bagian-bagian sebilah keris dengan istilah-istilah yang telah ada turun-temurun. Ricikan sebilah keris dapat dianalogikan dengan suku cadang atau komponen mobil. Di antara komponen mobil ada yang namanya piston, gardan, bumper, pelek, dashboard, altenator, dlsb. Demikian pula, tiap bagian keris yang berlainan bentuknya berlainan pula namanya.

Rincikan keris juga merupakan variasi dari sebilah keris untuk dapat disebut dhapurnya. Misalnya pada keris sederhana dhapur Brojol hanya memiliki rincikan Blumbangan atau pejetan saja. Sedangkan Dhapur Sepaner adalah memiliki rincikan sekar kacang, tikel alis, sraweyan, sogokan dan greneng. Setiap nama dhapur keris ditentukan oleh adanya Rincikan keris dan bilah lurus atau bentuk luknya.

Secara garis besar, sebilah keris dapat dibagi atas tiga bagian yakni bagian bilah atau wilahan, bagian ganja dan bagian pesi. Bagian wilahan juga dapat dibagi tiga, yakni bagian pucukan yang paling atas, awak-awak atau tengah dan sor-soran atau bidang bawah. Pada bagian sor-soran inilah ricikan keris paling banyak ditempatkan.
Nama-nama ricikan keris adalah:

o  Pesi
o  Metuk
o  Gonjo
o  Greneng
o  Rondo Nunut
o  Buntut Cecak
o  Punukan
o  Dho
o  Ri Pandan (8+9 =Ron Dho)
o  Tingil
o  Sraweyan
o  Bungkul
o  Janur
o  Sogokan (ada yg rangkap ada yang depan saja)
o  Poyuhan
o  Pejetan/Blumbangan
o  Gandik
o  Tikel Alis
o  Jenggot
o  Sekar Kacang atau Kembang Kacang
o  Jalen
o  Lambe Gajah
o  Pundak atau Sumping
o  Pudak Sa’tegal Depan
o  Pudak Sa’tegal Belakang
o  Adha-adha atau Geger Sapi
o  Lis-lisan

o  Gusen
o  Kruwingan atau Gulo Milir
o  Kruwingan Cucuk Manuk
o  Pucukan Mbuntut Tumo
o  Pucukan Anggabah Kopong
o  Sogokan Sampir atau Sinebo
o  Bawang Sebungkul
o  Sekar Kacang Pogok
o  Lambe Gajah Rangkep
o  Gonjo Wuwung
o  Gonjo Kelap Lintah
o  Gonjo Wilut
o  Kanyut
o  Wetengan Gonjo
o  Sirah Cecak
o  Buntut Cecak Sebit Lontar
o  Sirak Cecak Melinjo atau Nyangkem Kodok
o  Buntut Cecak Nguceng Mati
o  Gandik Pethuk atau Laler Mengeng
o  Mendak
o  Ukir atau Deder
o  Kinatah emas


Nama bagian-bagian atau Rincikan Keris ini digunakan untuk keris se Nusantara. Hanya sering ada perbedaan penyebutan dipengaruhi oleh bahasa lokal. Misalnya di Sulawesi menyebut Keris itu Sele atau Tappi, Gonjo adalah Kancing, Pesi disebut Oting. Demikian pula di Madura Pesi disebut Pakseh, Gonjo disebut Ghencah, bilah keris disebut Ghember sementara di Bali ada beberapa perbedaan pula menyebut Keris dengan Kadutan, Pesi disebut Panggeh, Gonjo disebut Ganje, Hulu keris disebut Danganan dslb.

Untuk pengetahuan perkerisan, baik sebagai kolektor atau pemerhati, ricikan keris walaupun merupakan pengetahuan dasar menjadi sangat penting karena setidaknya dapat untuk membedakan jenis-jenis Dhapur. Seseorang tidak akan mungkin mengetahui nama dapur bilamana ia tidak hafal terhadap ricikan keris ini.

(Sumber:Ensiklopedi keris Oleh Bambang Harsrinuksmo
ul/crt Antoniyus Cahyalana/gallerybadiklampung.blogspot.com) 

Jumat, 08 Februari 2013

BATU METEOR BAHAN MEMBUAT KERIS
Jika saat ini Rusia digemparkan batu meteor yang turun dari langit, para empu keris sejak abad 12-13 diyakini telah mengenal tentang meteor. Tidak hanya itu mereka juga diyakini telah menggunakan meteor sebagai bahan pembuat keris, tombak, dan pedang.

Dipilihnya meteor oleh para empu keris, disebabkan di dalam meteor mengandung unsur titanium. Belakangan titanium digunakan sebagai bahan pelapis peluru kendali antar benua, roket angkasa luar dan berbagai perlengkapan kendaraan luar angkasa.

"Titanium adalah jenis unsur logam yang amat keras, tahan karat, tahan panas dan warnanya putih mengkilat keperakan. Diperkirakan sejak abad ke 12-13 empu-empu di Pulau Jawa telah menggunakan titanium sebagai bahan pembuatan pusaka. Mereka mendapatkan unsur titanium itu dari batu bintang atau batu meteor yang jatuh ke bumi," kata Kanjeng Benny Hatmantoro, senior perkerisan dari Forum Bawa Rasa Tosan Aji Soedjatmoko Surakarta pada merdeka.com, Senin (18/2).

Masih menurut Benny, sebagai logam, titanium memang memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan besi atau logam lainnya. "Berat jenisnya 4,5, karena titik didihnya yang amat tinggi, pada batu meteor yang jatuh ke bumi kandungan titanium masih cukup banyak dan tahan terhadap oksidasi alam. Menariknya para empu saat itu tidak berpikir jauh soal titanium, namun mereka hanya paham keunggulan bahan tersebut," tambah Benny yang juga menjadi kurator keris dan banyak menjadi pembicara di berbagai sarasehan keris.

Dari catatan Benny keberadaan unsur titanium dalam pamor keris dan tombak serta tosan aji lainya yang dibuat di pulau Jawa baru diketahui pada tahun 1983, setelah tiga orang sarjana fisika nuklir Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Yogyakarta yakni Haryono Arumbinang MSc, Dr Sudyartomo Suntono dan Dr Budi Santoso mengadakan penelitian dengan metode dan peralatan mutakhir.

"Dari penelitian tersebut bahan meteor dalam hal ini titanium yang paling banyak adalah keris-keris di era Mataram Sultan Agung sekitar abad ke-16. Tapi jangan salah di era Majapahit empu-empu di masa itu telah menggunakan bahan meteor sebagai bahan keris. Sebab keris-keris Majapahit dikenal sebagai keris yang sangat ringan dan pamornya akhodiyat/deling (indah dan terkesan timbul)," tambahnya.

Meteor jatuh di tanah Jawa bukan sesuatu yang langka. Salah satu meteor yang paling terkenal pernah jatuh ke Jawa yaitu meteorit Jatipengilon yang jatuh di Alastoewa, Madiun pada 19 Maret 1884.
(Sumber: merdeka.com/19-2/2013)

Minggu, 09 September 2012

TENTANG BADIK LAMPUNG
 

       Badik adalah senjata tradisional yang bisa dijumpai di sejumlah daerah di Indonesia. Selain Sulawesi Selatan, Lampung adalah daerah lain di tanah air yang memiliki warisan senjata tradisional badik. Terdapat kemiripan antara badik Sulawesi Selatan dan badik Lampung, seperti gagangnya yang bengkok, bilah yang asimetris dan meruncing, serta memiliki hiasan pamor atau bercak pada bilah (mata pisau) akibat percampuran bahan logam yang digunakannya. Sejauh ini, belum ada penelitian yang menelusuri muasal kemiripan badik di dua tempat tersebut.
       Namun demikian, banyak yang berasumsi bahwa pada zamannya, Kerjaan Goa dan Bone-lah (sekarang wilayah Sulsel) yang datang memperkenalkan badik pada masyarakat di wilayah Lampung.Berbeda dengan keris atau kujang, di kalangan masyarakat penggunanya, badik masih sarat dengan nilai-nilai ‘kejantanan’, di mana masih banyak di antara mereka yang selalu membawa badik dalam aktivitas sehari-hari.

Jenis-jenis Badik Lampung
       Menurut ukurannya, Badik Lampung bisa digolongkan ke dalam dua, yakni badik kecil dan Siwokh. Badik kecil umumnya memiliki bilah yang berukuran tidak lebih dari 11 cm, dengan lebar sekitar 2 cm. Sedangkan Siwokh, panjang mata pisaunya lebih dari 19 cm, dan lebarnya lebih dari 2 cm. Berdasarkan karakteristik bilahnya, yakni berlubang atau tidak berlubang, badik badik kecil maupun Siwokh memiliki istilah tersendiri, yakni Badik/Siwokh Bebai (perempuan) untuk yang berlubang, dan Badik/Siwokh Ragah (laki-laki) untuk yang tidak berlubang. 
      Bagi para peminatnya, badik tua/lama diyakini memiliki kualitas yang lebih baik. Salah satu indikator untuk mengujinya, yakni dengan cara menyentil ujung badik, di mana badik tua akan terdengar lebih nyaring dibandingkan dengan badik produksi masa kini. Badik tua juga diyakini mengandung warangan (bisa), yang membuat luka akibat goresannya akan sulit disembuhkan. Tidak hanya pada manusia, konon pohon pun jika terkena goresan badik tua yang mengandung warangan akan mengering dan mati.

Pamor Badik Lampung
      Seperti halnya keris, Badik juga umumnya dihiasi dengan pamor atau motif bercak pada bilah akibat percampuran logam dan teknik pembakaran serta penumbukan. Seorang pandai badik dituntut untuk menguasai teknik-teknik pembuatan hiasan pamor tersebut, karena pamor merupakan salah satu unsur penting dalam badik, yang memuat, baik nilai artistik maupun spiritual.

       Pamor dalam istilah Gaman jenis Badik tidaklah sama dalam istilah pamor dalam perkerisan. Pamor dalam badik identik dengan ke-tanda-an, contoh tanda gurat (“garis”) pada bilah badik disebut dengan BAYANG (alur darah; istilah umum). Dari beberapa garis Bayang itulah yang disebut dengan Pamor Badik. Beberapa pola pamor dalam Badik Lampung antara lain bayang capit, bayang sai, bayang pekhancang, pebayang khancang, khancang, laman tundun, khancang batu, khancang seribu, dan singa dawan.


 [by:blog pustaka sumatera, ul/crt:Antoniyus Cahyalana/Gallerybadiklampung.blogspot.com]